Selasa, 16 Agustus 2011

.♥♥. SEKEDAR SHARE... :) .♥♥.

Ketika kebaikan semakin tumbuh didalam diri kita,
tanpa kita sadari seiringi itu tumbuh juga keangkuhan didalam diri kita.
Adakah kerendahan hati untuk mengakuinya?

Dalam satu seri film kartun The Simpson yang suka saya tonton, ada satu adegan dimana ketika Homer Simpson bertanya kepada tetangganya yang fundamental mereka dari mana, maka dengan gaya yang angkuh mereka menjawab,
"Kami pergi ke kamp Kristen. Kami belajar bagaimana supaya bisa lebih menghakimi !"

Apakah kita tersinggung, marah, tersenyum,tersentil, sejenak merenungkannya atau cuek saja atas peristiwa ini? Menurut saya justru sentilan yang sangat mengena dan mencerahkan hati yang penuh kabut ini.

Akan tetapi apapun sikap atau perasaan kita itu hak kita dan menunjukkan siapa diri kita sendiri. Tidak ada yang bisa mendikte kita.

Siapapun dan agama apapun yang kita anut, mungkin tidak sefundamental tetangga Homer Simpson mengungkapkan hal ini, tetapi minimal didalam hati
kadang kesombongan itu memang ada. Kita menyadarinya atau tidak menyadarinya. Tapi saya sendiri merasakannya. Namun saya selalu mencoba
mengusir perasaan itu seketika itu juga. Ketika perasaan itu hadir.

Didalam diri kita selalu ada dua sisi, baik dan buruk yang tanpa kita sadari tumbuh beriringan. Ketika kita tumbuh dalam kerohanian, yang seharusnya membuat kita semakin mengasihi, namun disisi lain justru menjadi semakin menghakimi. Ada
keangkuhan yang diam" tumbuh didalam diri kita. Walaupun kita kemungkinan tidak mengakuinya .

Ketika kita semakin berkembang dalam sifat baik dan tumbuh dalam kerohanian , diam" kita juga mulai menilai dan membandingkan diri kita dengan yang lain. Diam" kita menjadi juri atas perbuatan orang lain dan kita merasa berhak untuk itu. Seakan mendapat ijin untuk mewakili Tuhan. Didalam batin mulai membuat daftar, siapa yang baik dan siapa yang tidak. Selanjutnya kita menyingkirkan orang yang kita anggap tidak baik itu bukannya merangkulnya.

Diam" bahkan tak jarang terang"an kita lebih memuji" kebaikan yang kita lakukan daripada kebaikan yang diberikan Tuhan. Diam" lebih memuja didepan cermin daripada memuja Tuhan. Lebih sibuk menghakimi daripada melayani .

Kemudian setiap kebaikan yang kita lakukan lebih mengharapkan penghargaan dari manusia daripada Tuhan. Diam" lebih mengharapkan pujian daripada melakukannya dengan setulus hati. Ketika kita mengatakan tentang kerendahan hati, hanyalah sekedar basa-basi. Tanpa disadari, mulailah tumbuh keangkuhan keimanan didalam diri kita.

Jadi, seringkali kita lebih waspada terhadap pencuri yang kelihatan yang akan mengambil harta benda kita daripada pencuri yang tak berwujud yang Diam" merampok hati dan keimanan kita.

Terimakasih ya Tuhan untuk diingatkan walaupun hanya melalui sebuah film kartun.

Semoga kesadaran ini selalu menyertai kita semua dalam setiap langkah kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ini hanya sekedar Blog... jangan di acak acak ♫♪ ❤ DEWI ❤ ♪♫