Selasa, 18 Desember 2012

♡♡ Menjadi Ibu Panutan ♡♡


Ibu adalah nama lain dari kasih sayang yang indah, yang diberikan ALLAH sebagai rahmat bagi hamba_NYA. Ibu ibarat malaikat yang menjadi pelindung anak- anaknya dari setiap kejahatan yang akan menyakiti mereka. Bahkan ketika manusia terlahir tanpa dampingan seorang ibu, rasanya mereka akan siap menukar apapun yang dimilikinya demi kehadian sang ibu tercinta. Maka tak heran jika seorang ibu selalu diagungkan kebaikannya, baik ketika dia masih ada ataupun sudah tiada.

Maha suci ALLAH yang telah menciptakan kedekatan antara seorang ibu dengan anak- anak mereka, sebagai sebuah kemanusiawian. Setiap anak akan begitu nyaman berada di samping ibunya. Karena itulah, secara alamiah pula, anak-anak melihat ibu sebagai sosok panutan yang patut diikutinya. Seperti spons kering yang menyerap setiap air yang ada di dekatnya, seperti itulah anak- anak dengan polos mencontoh cara berucap, dan bersikap para ibu mereka.

Maka tak dipungkiri lagi, jika ibu adalah ibarat guru pertama bagi anak-anak. Dengan ibu jugalah, anak- anak belajar mengenali dan mempelajari dunia ini. Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai seorang ibu, agar kita pantas dijadikan tauladan yang baik untuk anak- anak kita?

Pertama, Menjadi Ibu Yang Penuh Kasih Sayang
Yang pertama dan utama jadilah ibu yang baik dan kasih sayang. Dari sikap terpuji inilah anak- anak akan mengenali dan mencontoh bahwa hanya kebaikan dan kasih sayang lah yang sebenarnya diperlukan jika mereka ingin selalu disayangi, dan diterima oleh kehadirannya oleh sesama. Sebaliknya, mereka juga akan belajar membedakan bahwa perbuatan jahat hanya akan menyakiti orang lain dan merugikan diri mereka sendiri.

Kedua, Ramah Dan Menghargai Orang Lain
Selain itu, ajarkan kepada anak bahwa setiap orang itu berbeda, dan kita harus menghargai perbedaan-perbedaan itu. Tanamkan pada diri anak- anak kita bahwa tidak seorang pun senang diperlakukan kasar. Maka ucapan terima kasih, tolong, dan maaf, harus dibiasakan sedari mereka kecil, agar terpola dalam pikiran anak bahwa sikap ramah adalah hal penting yang dibutuhkan untuk menjalin sebuah persahabatan.

Ketiga, Tegas Dalam Berprinsip.
Kenalkan pada anak- anak kita, bahwa di dunia ini juga ada hal yang tidak bisa kita tawar tentangnya. Sebagai contoh adalah masalah akidah. Kenalkan kepada mereka berikut alasannya tentang kepastian dan kepatenan nilai- nilai tersebut untuk harus selalu kita patuhi.

Keempat, Luangkan Waktu Untuk Komunikasi Yang Hangat


Jika kita mengharapkan anak akan patuh, maka komunikasi yang hangat dari kita sebagai ibu, sangat penting untuk dilakukan. Dan dalam berkomunikasi, anak dan ibu juga membutuhkan banyak waktu. Maka sudah seharusnya kita menyediakan waktu untuk membangun hubungan yang berkualitas dengan anak- anak mereka.


Tunjukkan kepada anak, bahwa dengan berkomunikasi, kita dapat menjadi partner mereka yang baik dalam mencari kebaikan. Jika akhirnya nasehat harus diberikan, maka biarkan terlebih dahulu mereka mengemukakan ide dan pikiran mereka, dan jangan beri batasan agar mereka juga tidak mengambil jarak dengan kita. Dengan itu InshaALLAH mereka akan menjadikan kita sebagai contoh, karena kemampuan kita menjadi pendengar yang merangkul dan mengayomi mereka, saat mereka susah.

Kelima, Bersikap Positif
Sebagai seorang ibu, hendaknya kita berhati- hati dalam bersikap dan berucap. Anak- anak kebanyakan akan meniru materi, pemikiran bahkan gaya bicara kita terutama bila mereka berada di dekat kita. Pembicaraan dan sikap yang positif akan memberikan contoh yang baik pula bagi mereka, agar kelak menjadi pribadi yang positif.

Keenam, Konsisten
Dari semua sikap yang kita berikan kepada anak- anak kita tersebut, maka tak akan ada gunanya jika kita sendiri tidak konsisten dengan yang telah kita ajarkan. Pencontohan sikap baik yang terus menerus dan konsisten, akan lebih mudah terbahasakan kepada anak ketimbang hanya sekedar nasehat atau kata- kata yang kita suarakan ke telinga mereka.





Sumber : Syahidah/Voa-islam.com

Minggu, 16 Desember 2012

♡♡ Inti Kebaikan ♡♡


Nabi Muhammad Shalallahu A'laihi Wasallam yang mulia telah mengumpulkan kebaikan dalam enam macam :

1. berkata benar, 
2. menepati janji, 
3. menunaikan amanah, 
4. menjaga kemaluan,
5. memelihara pandangan, dan 
6. menahan tangan dari hal yang diharamkan.
Mengapa Rasulullah mengumpulkan inti kebaikan hanya menjadi enam macam ??
Kebaikan yang diajarkan dalam islam banyak macamnya. Dari berbagai macam kebaikan itu 
oleh Rasulullah diringkas menjadi enam macam saja. Keenam macam kebaikan ini apabila dipegang teguh oleh seorang mukmin akan mengarahkannya menjadi hamba yang shaleh, terpercaya, dan mulia. Sebaliknya apabila keenam ini terlepas dari dirinya akan berubah 
menjadi sumber kemaksiatan yang menjerumuskan pelakunya menjadi orang yang merugi.

Jika ingin di kumpulkan lagi enam kebaikan itu bisa cukup menjadi Dua saja.
Tiga pertama berkaitan dengan lisan. Tiga berikutnya berhubungan dengan nafsu birahi seseorang. Sabda Rasulullah SAW diatas berkaitan erat dengan sabdanya yang lain yang ,

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'id r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Barangsiapa menjamin padaku apa yang berada antara dua jenggotnya (lisannya) dan apa yang berada diantara kedua kakinya (kemaluannya), aku akan menjaminnya dengan surga". [HR Bukhari]

Berkata benar, menepati janji, dan memenuhi amanah adalah hasil kerja lisan. Dan setiap kata yang terucap oleh lisan selalu mengandung konsekwensi. Baik di dunia maupun diakhirat. Seseorang dituntut untuk berkata benar dalam berbicara. Kalau tidak mampu oleh nabi disarankan untuk diam saja.

Beliau bersabda : “Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, berkatalah yang baik atau diam. Saja .” [HR Bukhari]

Sebagai konsekwensi berbicara benar adalah jika seseorang berjanji secara lisan, ia harus menepatinya. Lebih khusus lagi apabila ia diberi amanah dan menerimanya berarti ia berjanji untuk melaksanakan amanah itu.
Seorang pebisnis memberi nasehat kepada anaknya, "Anakku, agar engkau sukses dalam bisnis, kuncinya ada dua. Jujur dan Pandai. Sang anak bertanya: " Apakah jujur dan pandai itu Pak? ". Ayahnya menjawab, : "Jujur adalah kamu menepati setiap janji yang kamu buat. Sedangkan pandai adalah Kamu jangan mudah membuat janji."
Nasehat orang tua itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan nasehat Rasulullah SAW.

Menjaga kemaluan , memelihara pandangan dan menahan tangan dari perbuatan maksiat adalah kunci jaminan masuk surga Rasulullah yang kedua. Perbuatan tersebut mengarah kepada nafsu seksual. Ujung-ujungnya akan menuju kepada perbuatan zina..
Bermula dari saling memandang, enebar senyum, lalu membuka pembicaraan.Keakraban terjadi dan tangan mulai memainkan peran. Apabila nafsu birahi sudah menggelora, perbuatan zina tidak dapat dihindarkan. Orang tersebut tidak mampu menjaga kemaluannya.

Setiap orang berlaku baik atau melakukan kebaikan berharap akan mendapatkan surga. Kepada orang tuapun, ketika kita sewaktu kanak-kanak ingin mendapatkan permen, kita berbuat baik dahulu. Membersihkan rumah, makan yang banyak, sampai memijat punggung orang tua. Perbuatan baik yang ia lakukan mengharapkan imbalan.
Rasulullah SAW memberikan jaminan surga bagi orang yang mengerjakan inti kebaikan.
Sebaliknya jika seseorang sering berkata bohong, tidak menepati janji dan melalaikan amanah yang diberikan Rasulullah SAW tidak bisa menjanjikan surga baginya.
demikian pula seseorang yang tidak bisa menjaga kemaluannya (termasuk menjaga pandangan, perasaan dan perbuatan yang mengarah kepada nafsu birahi), kunci surga lepas darinya. Kalau ia tidak bisa masuk surga , tempatnya tidak lain adalah dineraka. Oleh karena itu, laksanakan nasehat Rasulullah SAW yang cukup sederhana ini dengan mengerjakan 6 inti kebaikan...
ini hanya sekedar Blog... jangan di acak acak ♫♪ ❤ DEWI ❤ ♪♫